Sepanjang sejarah manusia hingga kini, manusia selalu berdebat mengenai Tuhannya. Coba kita simak hadits Rasulullah SAW : “Barangsiapa mengenal dirinya, pastilah dia mengenal Tuhannya”. Mengenal dirinya berarti mengenal jatidirinya, SIAPA SAYA, DIMANA SAYA, UNTUK TUJUAN APAKAH SAYA BERADA DI SEMESTA RAYA TAK BERUJUNG INI? SAYA YANG TAMPAK KECIL DITENGAH-TENGAH MILIARAN GALAKSI DENGAN FENOMENA-FENOMENANYA YG TAK TERPECAHKAN, BAGAIKAN SETITIK DEBU DITENGAH PADANG PASIR YG LUAS. BETAPA TIDAK BERDAYA DAN LEMAHNYA SAYA.
Dengan merenungi jati diri kita, kiranya tidak ada tempat bagi diri kita untuk bersikap ‘SOMBONG’ dengan mengatakan ‘alam semesta ini ada dengan sendirinya (tidak diciptakan)’.
Lebih jauh lagi, orang-orang yang sombong itu mengatakan bahwa ‘YANG KEKAL ITU ADALAH ENERGI (HUKUM KEKEKALAN ENERGI)’. Dengan demikian mereka mempertuhankan energi itu. Bagi mereka energi adalah segala-galanya.
Angin, petir, panas, dingin, cahaya dll adalah energi. Ketika mereka MELIHAT sumber cahaya dan panas terbesar di tata surya adalah matahari, maka mereka mengatakan matahari adalah dewa, sehingga di Mesir jaman Fir’aun di kenal dengan nama Dewa Ra = Dewa Matahari. Masyarakat di Jepang juga menyembah dewa matahari. Bahkan di India ketika jaman Rasulullah dulu juga dikenal banyak ratusan dewa-dewi. Bahkan seekor ular karena kehebatannya juga disebut sebagai penjelmaan dewa (Dewa Ular).
Demikianlah, manusia hanya mengakui sesuatu yang TAMPAK (mampu ditangkap oleh Pancaindera dan otaknya). Kini, mereka mengatakan yang TAMPAK-lah yang masuk LOGIKA, dan sebaliknya.
Padahal, definisi masuk LOGIKA bukanlah demikian. Masuk logika bermakna bisa diterima dengan akal yang sehat. Al Islamu Ad Din Al Aqli (Islam adalah agama yang masuk akal), maka teori tentang ketuhanan dalam Islam pastilah bisa diterima dengan akal sehat. Tuhan itu Ahad (Esa), tidak melahirkan dan dilahirkan, tidak ada yang menyerupaiNya dengan apapun di jagad semesta raya ini, dst. Tadaburi dan tafakurilah (adakan riset -istilah para ilmuwan-), pasti teori inilah teori yang bisa dterima oleh akal yang sehat (masuk LOGIKA). Yang tidak menerimanya pastilah sedang tidak sehat akalnya alias
Tidak ada komentar:
Posting Komentar